Pernah baca buku dengan judul di atas? Buku karangan Dr.John Gray ini berupa panduan bagaimana mengatasi kesenjangan pemahaman komunikasi antara pria dan wanita. Kalo lo baca buku ini pasti dalam hati bakal komentar “Gila, gue banget ceritanya” ato ” Iya kenapa sih pria itu gak bisa ngerti perempuan” ato ” Hmm..kelakuan cowo gue banget nih..” Gue baca buku ini udah lamaaa banget. So mungkin isi bukunya udah banyak yang gue lupa. Membahas tentang perbedaan bahasa dan gaya tubuh pria dan wanita. Ngomongin soal pria yang selalu bertanya tanya kenapa sih wanita itu susah dimengerti? dan ngebahas soal wanita yang juga sering bertanya kenapa ya pria itu tidak peka?Ada apa sebenarnya?
Menurut teori, pria cenderung berpikiran logis sementara perempuan kerapkali mendahulukan perasaan. Pria cenderung straight to the point sementara wanita sering menggunakan banyak “kiasan” untuk menyampaikan maksudnya. Ini hanya sebagian kecil saja dari permasalahan pria dan wanita (kalo memang bisa dibilang masalah..)
Gue terinspirasi nulis ini awalnya gara gara nonton film “The Break up”. Komedi romantis ini bercerita tentang hubungan antara Brooke (Jennifer Aniston) dan Gary (gue lupa namanya) yang sering banget beda pendapat dalam menyelesaikan persoalan. Pdahal secara pribadi mereka adalah orang orang yang baik, normal dalam artian gak bertingkah aneh2 dan sama2 menyenangkan. Tapi begitu harus hidup dalam satu atap, masalah mulai muncul. Pada dasarnya semua kita yang udah married akan merasakan hal yang sama, iya kan? Dan gak usah jauh jauh ngebahas orang lain, contohnya gue dan suami gue.
Ada untungnya juga gue pernah baca buku pak Dokter itu. Walaupun sering gregetan ma si Abang, gue tetep berusaha mengingat nasihat buku panduan itu.Walaupun kadang jadi meledak juga karena gak tahan. Seringkali cuma gara gara masalah kecil.
Misal :
Gue : Pengen dia ngerti saat gue capek, gue butuh bantuan tanpa harus gue minta. (bisa liat kan gue yang mondar mandir di dapur dan beresin rumah sehabis pulang kerja?)
Abang : Kalo emang kamu butuh bantuan kenapa gak ngomong? Aku pikir kamu memang sanggup mengerjakan sendiri (mana ada orang yang bisa tahu isi kepala orang? Aku kan bukan Tuhan?)
Gue : Pengen dia ngerti saat gue lagi sedih dan punya masalah dia bisa menghibur gue tanpa harus gue cerita duluan (bisa liatkan dari muka gue yang ditekuk, mata nanar, wajah pias, bibir kelu..sebenarnya lagi ada masalah ato gara2 OD yak?:-))
Abang: Kalo kamu punya masalah ya certain aja. Kalo kamu diam bisa aja aku berpikir kamu lagi pengen sendiri.
Gue: Pengen dia gak TIAP HARI main game. (kapan gue bisa sharing soal keseharian gue kalo tiap hari dia sibuk ma mainan dan temennya)
Abang : Ada kok saat saat kita bisa ngobrol berdua.. (dengan wajah ragu ragu)
Fiuuhh…itu hanya segelintir contoh perbedaan antara gue dan Abang. Kadang gue mikir, gimana gue harus hadapi ini yang pastinya bakal tak terselesaikan seumur hidup? Karena masalah ini emang gak akan pernah selesai. Tuhan memang sudah mengkodratkan bahwa tiap sel sel yang tumbuh di otak pria akan berbeda dengan wanita. Intinya adalah bagaimana pada akhirnya kita bisa meminimalkan perselisihan, mengurai permasalahan dan yang pasti mempertebal kesabaran he..he..
Gue sekarang lebih memilih mengungkapkan apa yang gue rasakan, apa yang gue inginkan (gak usah suruh dia baca bahasa tubuh gue) dan mendengarkan apa yang dia utarakan, juga segala persetujuan dan keberatan dia saat kita berusaha menyelesaikan masalah (karena laki laki lebih suka wanita bicara dari pada harus memahami ungkapan ungkapan) . Gue emang bukan pakar komunkasi, tapi pengalaman gue (yang sangat minim ini) menunjukkan hanya komunikasi yang sehat yang bisa buat kita saling memahami. Bicara dengan nada keras dan ketus tidak termasuk komunikasi lho..(jelas dalam tahap ini gue juga masih banyak belajar he..he..) Yang gue maksud di sini bicara secara dewasa, ungkapin apa yang mengganjal dan apa yang disukai atau tidak disukai dari perilaku pasangan. Syaratnya juga kita harus mendengarkan dan belajar memahami jalan pikiran pasangan kita.
Dari film di The Break Up gue mengambil hikmah, sebesar apapun kekesalan kita menghadapi pasangan, emosi yang kadang tak tertahankan, sedikit bisa mereda bila kita berpikir bahwa kita memang mencintai dia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bahwa Tuhan telah mempertemukan kita untuk mengarungi kehidupan, bahwa kita telah memutuskan menikah dan bersumpah atas nama Tuhan. Mungkin kata kata gue terkesan standart. Tapi kalo kita mau mencerna memang itulah intinya. Ingat lagi tujuan kita menikah untuk apa, ingat lagi kenapa akhirnya kita memutuskan menikah dengan pasangan kita saat ini, ingat lagi bahwa Allah lebih tau mana jodoh yang terbaik buat kita (dan Allah tidak pernah salah). So terima semua dan jalani semampu kita.
For your information, setiap sholat gue selalu berdoa agar pernikahan ini berjalan dalam mawadah, sakinah, warahmah (amien). Memohon doa untuk kesabaran kami berdua dan memohon agar selalu diberi jalan keluar di setiap permasalahan. Gue juga nganjurin lo semua melakukan ini.Percaya deh gak ada yang bisa bantu lo selain yang di Atas.
Sori ya kalo cerita ini terkesan menggurui. Gue cuma mau share ma temen2 yang gue yakin punya masalah yang sama ma gue. Tapi ini gak bisa cuma dijalani satu pihak. Harus ada komitmen bersama untuk saling terbuka dan berkomunikasi dengan baik apapun masalahnya. Allahu’alam Bissawab.
PS: Cerita ini tidak ditujukan bagi wanita yang teraniaya dan di zalimi lahir dan batin oleh suaminya. Bila anda mengalami masalah ini segera hubungi Perlindungan Perempuan dan Anak di kota anda. Percaya deh, kita ini kaum Hawa di ciptakan Allah untuk dilindungi dan dikasihi. Kita para wanita pantas untuk bahagia…